Monday, January 14, 2013

H5N1 clade 2.3.2

Virus flu burung atau Avian Influaenza (AI) varian baru: clade 2.3.2, berbeda dengan varian sebelumnya, 2.1, yang hanya patogen pada ayam dan burung, virus AI baru ini diyakini bersifat lebih patogen. Kematian itik dan kemudian ayam kampung karena virus baru ini cukup tinggi.

Virus clade ini bukan merupakan hasil mutasi dari virus AI clade 2.1 yang sebelumnya sudah mewabah di Indonesia. Selama ini, virus flu burung H5N1 clade 2.1 berubah menjadi varian 2.1.1, 2.1.2, dan 2.1.3. Kedua varian terakhir juga menginfeksi manusia. Sejak 2008, varian 2.1.3 banyak ditemukan pada hewan dan manusia, yakni sekitar 80 persen.

Sejak pertamakali ditemukan pada 2003, belum ada informasi di Indonesia  telah ditemukan virus flu burung varian selain 2.1, apalagi 2.3.2. Virus ini pertamakali ditemukan di Brebes, Jawa Tengah. Dari manakah virus varian baru itu? Mengapa pertamakali ditemukan di Brebes?

Sekretaris Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis Emil Agustiono menduga ada tiga kemungkinan masuknya clade 2.3.2 ke Indonesia: dari impor atau luar negeri, migrasi burung liar, dan mutasi genetik. "Dari mutasi genetik paling kecil kemungkinannya," kata Emil kepada Metrotvnews.com.
kemungkinan besar virus varian baru itu hadir akibat perdagangan unggas lintas wilayah. Perdagangan unggas bisa legal dan ilegal. Ia menduga, perdagangan unggas di Brebes itu ilegal karena di sana banyak pelabuhan tak resmi. Itik di Brebes tidak dikandangkan. Amat mungkin terkontaminasi migrasi burung.

Hal senada disampaikan ahli virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada Yogyakarta Widya Asmara. Widya yakin, virus clade 2.3.2 dibawa burung liar yang bermigrasi dari Asia ke pantai-pantai di Indonesia akibat musim dingin di belahan bumi utara. Tidak tertutup kemungkinan virus masuk lewat perdagangan antar-negara yang tak terdeteksi.

Pendapat berbeda diungkapkan CA Nidom. Ketua Avian Influenza-zoonosis Research Center Universitas Airlangga Surabaya itu menduga, virus varian baru ini masuk sengaja melalui impor. "Ada pihak yang sengaja memasukkan virus tersebut ke Tanah Air, tapi belum diketahui apa motifnya. Ini bisa disebut bioteroris," tegas Nidom kepada Metrotvnews.com.

Nidom tidak mau mengungkap jati diri pihak yang dia tuding itu. Menurut Nidom, benar-tidaknya tudingan bisa dilihat perkembangan kasus ini. "Apakah akan ada bibit atau daging bebek yang akan diintroduksi besar-besar ke Indonesia, termasuk vaksin unggas yang berisi varian 2.3.2, seperti kejadian pada tahun 2003-2004? Hanya waktu yang membuktikan."

Nidom tentu tidak mengada-ada. Ia yakin virus varian baru itu bukan bawaan migrasi burung. "Clade 2.3.2 biasanya ada di China dan jalur migrasinya ke arah barat, ke India lalu ke Eropa. Lalu kalau migrasi ke selatan, walaupun memang ada jalurnya yang nanti berlanjut ke Australia, harusnya Sumatra kena juga. Sekarang kenapa Jawa yang lebih dulu kena?" tanya Nidom.

Secara geografis, kata Nidom, varian 2.3.2 banyak ditemukan di Asia sebelah barat dari Danau Qinghai (China). Namun, karena burung migrasi, varian ini ditemukan di bagian timur Asia, seperti Hongkong, Korea, Jepang, bahkan sampai di Bulgaria. Varian 2.3.2 punya kedekatan dengan virus sejenis dari Qinghai (China), Rusia, Mongolia, India, dan Vietnam. Juga merupakan kerabat jauh dengan virus yang berasal dari Hongkong. "Sementara di Indonesia berasal dari mana?" tanya Nidom.

Yang juga mengherankan, kata Nidom, ia mendapat informasi FAO (Food and Agricultural Organization) menyarankan Indonesia memakai vaksin flu burung buatan China. "Saya dapat desas-desus dan katanya direkomendasikan FAO. Saya pikir peralatan yang ada di laboratorium kami (Unair) tersedia dari A sampai Z. Jadi buat apa impor vaksin dari China," kata Nidom. Lagipula vaksin asal China belum tentu cocok dengan virusnya.

Bagi Nidom, virus varian baru ini tidak boleh dianggap sekadar urusan kesehatan. Tapi sudah menyangkut ketahanan bangsa. Lantaran itu, Nidom mengkoordinasikan dugaan ini tak hanya dengan Kementerian Kesehatan, tapi juga dengan Kementerian Pertahanan dan Badan Intelijen Nasional


sumber : metro tv

No comments:

Post a Comment